Belum lama ini terjadi kasus bullying di SMA Negeri di Tangerang Selatan, yang dilakukan siswa senior terhadap adik kelas. Siswa perempuan yang menjadi korban tersebut mendapat perlakuan yang tidak baik dari beberapa senior putrinya, bajunya dirobek-robek dan dipertontonkan di depan siswa lainnya. Pihak sekolah yang dimintai pertanggungjawabannya atas kejadian ini pun, belum memberi respon yang tegas. Hal ini semakin membuat stres korban maupun orang tuanya. (sumber artikel : http://jakarta.okezone.com/read/2014/08/15/500/1024896/di-bully-senior-siswi-sman-9-ciputat-menangis-terus)
Kasus bullying maupun kekerasan di lingkungan sekolah, memang sudah kerap terjadi. Diantaranya ada siswa senior dengan adik kelas atau antara sesama siswa pada jenjang yang sama bahkan antar sekolah yang berakhir dengan tawuran. Bahkan tak sedikit dari kasus kekerasan maupun bullying tersebut yang berujung pada kematian. Kita tentu masih ingat peristiwa di kampus STAN beberapa tahun lalu, sejumlah siswa senior memberi hukuman fisik ke adik-adik kelasnya saat kegiatan ospek hingga ada yang meninggal. Belum lagi kasus tawuran yang silih berganti terjadi di beberapa sekolah dan kampus, tak jarang juga menimbulkan korban jiwa.
Mengapa generasi muda saat ini begitu mudah melakukan kekerasan atau membully teman-temannya di sekolah? Ada banyak hal yang mendorong mereka berbuat seperti itu, bisa karena jiwanya yang terguncang karena masalah dalam keluarganya (anak yang brokenhome atau orang tuanya baru saja meninggal atau sedang kesulitan ekonomi). Jiwa yang terguncang membuat keadaan jiwa tidak stabil sehingga sulit berpikir rasional dan mudah terpengaruh lingkungan untuk berbuat hal negatif.
Terlebih, remaja adalah usia yang mudah tersulut emosi sehingga bila ada sedikit perselisihan atau kedengkian antar sesama teman, para pelajar itu akan mudah meluapkan emosinya dengan cara kekerasan atau saling membully. Selain itu, sikap guru di sekolah juga menjadi faktor yang mempengaruhi. Bagaimanapun siswa mudah meniru orang dewasa yang ada di dekatnya dan dalam hal ini yang ada di lingkungan sekolahnya adalah guru. Sikap merendahkan atau berlebihan dalam memberi hukuman merupakan contoh buruk yang bisa memicu siswa terlibat kekerasan dan bullying. Keteladanan guru turut menjadi kunci untuk mencegah hal tersebut.
Disamping itu, buku bacaan, tayangan televisi, film dan internet yang kini sarat dengan konten kekerasan turut jadi pemicu kekerasan dan bullying. Game online yang diminati juga tak lepas dari unsur tersebut. Semua tayangan itu dapat mempengaruhi pola pikir para pelajar untuk mudah terpancing emosi dan terpicu melakukan tindakan tidak terpuji.
Pemerintah sudah sepatutnya memberi perhatian lebih atas permasalahan ini. Setiap elemen dalam pemerintah perlu bersinergi mencari solusi agar unsur kekerasan tak terus menerus mewarnai dunia pendidikan kita. Di antaranya dengan menutup situs-situs internet dan tayangan televisi yang berkonten negatif. Kemudian menghentikan segala agenda di sekolah yang beresiko memicu timbulnya kekerasan seperti MOS dan ospek. Bila ingin tetap mempertahankan kegiatan tersebut pun, maka harus ada pengawasan yang ketat terhadap aktivitas yang ada.
Semoga dengan meminimalisir semua faktor pemicu yang ada, kasus kekerasan dan bullying di lingkungan pendidikan tak akan terulang lagi. Bagaimanapun sekolah dan kampus harus menjadi tempat yang bisa memberikan rasa aman bagi peserta didik. Dengan demikian mereka bisa menjalani proses pendidikan dengan baik.
Home
»
Anti Kekerasan
»
Kemdikbud RI
»
MOS
»
OSPEK
»
Pendidikan
»
Sekolah
»
Stop Bullying
» Mengapa Bullying dan Kekerasan di Sekolah terus Merajalela ?
Minggu, 17 Agustus 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar