"Ma, kenapa langit warnanya biru?", tanya bocah kecil ke ibunya. Di lain tempat, seorang ayah tampak mengernyitkan dahinya berusaha mencari jawaban atas pertanyaan putra kecilnya. "Pa, kok petir bunyinya kencang ya?". Sementara itu, di waktu yang berbeda seorang siswa penasaran mengamati tanaman di sekolahnya. "Bu Guru, kenapa tanaman sawo ini bisa berbuah manis sedangkan kaktus tidak ada buahnya?". Sederet pertanyaan lainnya dari anak-anak kecil memang menjadi hal yang akrab di telinga kita. Seperti tak ada lelahnya mereka terus bertanya tentang segala hal yang ada di sekelilingnya. Rasa penasaran mereka mungkin sedikit terasa mengganggu bagi orang dewasa yang di dekatnya. Mau tak mau orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya harus memutar otak mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang kadang tak terbayangkan oleh kita. "Ma, nanti di surga kita bisa bebas nonton TV gak?" :) Tak jarang pula ada orangtua ataupun guru yang terlanjur sebal menanggapi pertanyaan bocah-bocah kecil. Hingga meluapkan emosinya, alhasil si anak jadi kapok bertanya lagi. Lama kelamaan 'syaraf' penasarannya pun mati rasa, karena terpaksa dinon aktifkan. Tepatkah tindakan itu? Masih ingat kisah awal ditemukannya gaya gravitasi oleh sang ilmuwan Issac Newton ? Saat itu, Newton lagi asyik berteduh di bawah pohon, hingga sebuah apel jatuh mengenainya. Sebenarnya bukan hal yang istimewa ya kejatuhan buah apel, kecuali kejatuhan buah duren. Benjol ya :) Namun, peristiwa biasa itu ternyata mengundang rasa penasaran Newton. Lama dia merenung mengapa apel itu jatuhnya ke bawah, begitupula benda lainnya. Tak disangka justru rasa penasarannya ini yang mengantarkannya menjadi penemu gaya gravitasi. Sebuah penemuan fenomenal di masa itu dan tentunya masih bermanfaat hingga saat ini. Tak berbeda jauh cerita tentang ilmuwan Archimides yang melegenda karena berawal dari rasa penasarannya. Saat ia sedang berendam di bak mandinya, ia heran mengapa air meluap saat ia masuk ke dalam bak tersebut. Tak disangka, rasa penasaran atas suatu hal yang tampak sederhana tersebut justru berbuah karya besar yang bermanfaat bagi umat manusia. Tentunya masih banyak lagi penemuan fenomenal lainnya dan semuanya bermula dari satu hal yang dirasakan sang penemunya, yaitu rasa penasaran. Lantas pantaskah jika kita malah mematikan rasa penasaran anak-anak yang polos bertanya ke kita? "Ih cerewet ya kamu banyak tanya". "Kepo amat sih, diem ah berisik!". "Kayak gitu aja ditanyain, makanya belajar yang bener". Ungkapan-ungkapan spontan yang sepintas asal kita ucap karena kurang sabar menghadapi rasa ingin tahu atau rasa penasaran anak-anak, justru menjadi bumerang bagi masa depan mereka. Padahal kita sudah belajar dari sejarah, semua penemuan yang ada bahkan berbagai kemajuan zaman yang kita rasakan manfaatnya saat ini, berawal dari rasa penasaran sang kreatornya. Maka, kini kita harus mulai belajar meyakini bahwa rasa penasaran anak-anak itu kelak akan berbuah emas. Kita yakini dan nantikan saja kelak akan ada banyak hal menakjubkan yang mungkin tak terbayangkan oleh kita, lahir dari rasa ingin tahu atau rasa penasaran anak-anak kita. Jadi, mulailah belajar bersabar dan jangan matikan 'syaraf' penasaran mereka :)
Minggu, 15 Januari 2017
Next
This is the most recent post.
Posting Lama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar