Opini tentang politik yang belakangan dipersepsikan negatif menjadi tantangan tersendiri dalam penyampaian pendidikan politik bagi pelajar. Jika dibiarkan persepsi negatif itu menjadi semacam pembenaran yang akan membuat masyarakat, terlebih para pemuda menjadi apatis dan apriori terhadap persoalan politik.
Karena itulah, pelajar perlu dilatih dari aspek kepemimpinan dan pendidikan dasar untuk pemahaman politik yang substantif. Pendidikan dasar politik dan kepemimpinan ini penting bagi para siswa selaku pemula. Mereka yang baru tumbuh itu adalah generasi penerus yang nantinya akan mengisi dunia politik dan pos kepemimpinan di berbagai bidang. Pada dasarnya semua anak memiliki potensi kepemimpinan, tinggal bagaimana dalam keseharian dan lingkungan bisa memunculkan potensi tersebut.
Karena itu, penting bagi anak-anak muda agar sejak dini dilatih dalam hal kepemimpinan. Mungkin sebagian besar dari kita merasa takut jika politik dimasukkan dan “mengotori” dunia pendidikan. Atau bahkan politik dikuatirkan menjadikan pendidikan sebagai kepanjangan tangan untuk memperluas kekuasaan. Padahal, sebagai institusi pendidikan formal, sekolah memiliki potensi yang sangat besar dalam meletakkan pondasi dasar bagi terciptanya kehidupan masyarakat ataupun politik yang demokratis.
Pendidikan politik di sekolah harus ditanamkan ketika siswa sudah mulai bisa menerjemahkan dan merasakan bahwa dia, dari sudut pandang pembuat kebijakan (decision maker) adalah objek yang terimbas dengan kebijakan-kebijakan yang diterapkan. Sebenarnya konsep pendidikan politik dalam sekolah bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana.
Pendidikan politik di sekolah lebih mengarah pada pembentukan kultur/budaya sederhana yang mencirikan demokrasi dan kemandirian. Inilah yang menjadi landasan dasar terwujudnya kehidupan yang demokratis nantinya. Pendidikan politik di sekolah tidak perlu ditafsirkan sebagai secara langsung menghadapkan siswa pada tataran politik praktis. Dalam hal ini pendidikan politik di sekolah bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana dengan lebih menonjolkan tumbuhnya budaya positif dalam pergaulan.
Diantaranya sebagai berikut: Pertama, adanya kebebasan yang besar bagi siswa untuk menyampaikan pendapat dalam forum-forum kelas. Metode-metode diskusi harus dilakukan sesering mungkin dan tidak hanya berangkat dari buku-buku teks. Dalam hal ini, harus disadari bahwa secara ilmiah tidak ada sesuatu yang memiliki kebenaran absolut.
Guru tidak boleh langsung menyalahkan pendapat dari siswanya. Ia harus bisa membangun pola pikir rasional dengan melontarkan argumentasi dalam berpendapat. Tentu saja ini juga akan menambah semangat dan keaktifan siswa karena siswa merasa dihargai.
Kedua, adanya komunikasi dua arah yang cair antara guru dan siswa. Bila kita terbiasa dengan cara-cara komunikasi yang serba resmi dan kaku, seperti saat guru mengajar di kelas, maka konsep pendidikan politik yang harus diterapkan adalah menciptakan ruang-ruang komunikasi yang tidak kaku. Dengan begitu siswa bisa menyampaikan ide-ide secara bebas, terbuka dan kritis. Komunikasi yang berjalan dua arah dan tidak kaku tersebut akan berujung pada tumbuhnya rasa percaya diri pada siswa yang pada gilirannya nanti akan melatih kreativitas dan kemandirian mereka.
Ketiga, keteladanan dalam berorganisasi. Sekolah merupakan sistem organisasi yang meliputi hubungan antara kepala sekolah, pegawai, guru hingga para siswa. Meskipun berbagai teori mengenai kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat telah disampaikan para guru, namun tanpa contoh langsung maka teori-teori akan menguap dan hanya sekedar membekas di catatan rapot para siswa.
Bagaimana seharusnya pemimpin bersikap kepada bawahan atau sebaliknya, bagaimana bekerjasama yang baik dengan rekan seorganisasi, menumbuhkan sikap empati dan tenggang rasa dengan teman, semua itu juga bisa dicontohkan melalui organisasi.
0 komentar:
Posting Komentar